|
JAKARTA - Teka-teki pelaksanaan Ujian Nasional (UN) terjawab sudah.
Melalui berbagai pertemuan Pemerintah yang diwakili Kementerian
Pendidikan Nasional memutuskan UN tetap dilaksanakan. Meski demikian,
Fraksi PKS meminta agar pemerintah segera mengevaluasi pelaksanaan UN
dan merekonstruksi Sistem Pendidikan Nasional.
"Ujian nasional
harus tetap dikoreksi dan dievaluasi secepat mungkin. Tidak ada kata
terlambat untuk memperbaiki Sistem Pendidikan Nasional demi masa depan
Bangsa Indonesia," kata Ahmad Zainuddin, Lc, anggota Panja UN DPR,
dalam rilis yang diterima okezone, Selasa (2/2/2010).
Demikian
hasil Seminar Pendidikan Membenahi Sistem Ujian Nasional yang
diselenggarakan Kelompok Komisi X FPKS di Gedung Nusantara Lantai III
Komplek DPR, Senayan Jakarta, Senin 1 Februari. Hadir sebagai sebagai
pembicara Prof Arif Rahman (Pakar Pendidikan), Prof Irwan Prayitno
(Mantan Ketua Komisi Pendidikan), Prof Djali (BSNP), dan Dr Elin Driana
(Education Forum).
Selain pembicara hadir juga Wakil Ketua FPKS Ledia Hanifa Amalia dan Anggota Komisi X FPKS Rohmani, S.Pd dan Herlini Amran, MA.
Para
pembicara memberikan pandangannya mengenai Sistem Pendidikan Nasional,
khususnya yang terkait dengan Ujian Nasional. Meski pemerintah tetap
menjalankan UN, pembicara yang terdiri dari pakar dan praktisi
pendidikan tidak sepakat jika UN dijadikan salah satu kriteria
kelulusan siswa.
Pakar pendidikan dari Universitas Negeri
Jakarta Prof Arif Rahman mengatakan, persoalan mendasar pendidikan
Indonesia adalah belum menyentuhnya sistem pendidikan pada aspek budi
pekerti, pembentukan karakter dan ketakwaan serta kreativitas.
"Sistem
kita ini baru fokus kepada kegiatan keilmuan. Lebih fokus kepada
mengajar daripada mendidik. Hasilnya yang dipentingkan
kognitif...kognitif...dan kognitif," katanya.
Ujian Nasional,
lanjut Arif Rahman, memiliki berbagai macam kelemahan yakni melanggar
asas keadilan, mencabut mandate penilaian yang seharusnya dimiliki
guru, kepala sekolah dan orang tua, belum terlaksananya UN yang
berkualitas serta adanya tumpang tindih antara pemetaan dan evaluasi
hasil belajar siswa.
Mengutip dari berbagai penelitian,
pemerhati pendidikan dari Education Forum Dr Elin Driana, Ph.D
mengungkapkan UN lebih banyak memberikan dampak negatif daripada
positif. Meski UN meningkatkan prestasi akademis anak didik namun
pelaksanaan UN melanggengkan kesenjangan akademis berdasarkan kondisi
ekonomi sosial.
"Ada kaitan yang sangat erat antara prestasi
akademis siswa dengan latar belakang kondisi sosial ekonomi siswa dan
kondisi sekolah. Ini sudah terbukti secara empiris di beberapa negara,"
ujar Elin.
Sementara itu, mantan Ketua Komisi Pendidikan
Prof Irwan Prayitno mengungkapkan UN memang adalah sebuah pilihan
kebijakan yang harus diambil pemerintah. Pihak yang pro dan kontra
memiliki alasan yang sama-sama ilmiah. Meski demikian realitasnya UN
selalu saja menimbulkan masalah yang sangat detil.(mbs)
http://news.okezone.com/index.php/read/2010/02/02/65/299865/fpks-sistem-pendidikan-nasional-harus-diperbaiki |